Belum banyak karya Coelho yang sudah saya baca. Selain The Aclhemist ada juga The Devil and Miss Prym dan Veronica Decides to Die. Buat saya, Veronica-lah juaranya. Novel ini mencoba merekonstruksi ulang definisi orang gila dan waras, yang labelnya sudah menetap dalam masyarakat mapan kita. Veronica membuat saya berpikir alangkah menariknya untuk mendalami jiwa orang-orang yang dicap masyarakat tidak waras itu, karena dunia memang juga sudah gila.
Bagi saya, toresan Coelho bisa dijadikan tempat untuk “berlari” sementara.
danceoftheclouds.blogspotPerjalanan hidup sastrawan Brazil ini, tafsir saya tidak jauh dari problematika masyarakat urban. Sejarahnya sangat tercium dalam karya-karyanya. Pencarian cita dan cinta, lekat dengan perjuangannya untuk tetap menulis yang tidak didukung oleh orang tuanya, sampai ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Perlawanan terhadap sistem, terlihat juga dari perjalanan-perjalanan yang dilakukannya, yang berada di luar zona aman yang kebanyakan dijalani sebagian besar orang. Begitupun dengan kontemplasi “sakit jiwa” yang dilakukannya saat ia dianggap gila oleh orang tuanya. Ia juga mengungkapkan praktik keji terapi electroconvulsive di rumah sakit jiwa, yang tertuang dalam “Veronica Decides to Die”. Tidak ketinggalan semasa mudanya, Coelho juga total menjalani hippie-nya dan menentang kapitalisme.
Mengintip dari blog resminya, Coelho telah meluncurkan karya terbarunya “The Aleph” yang baru akan dirilis ke seluruh dunia di tahun 2011 ini. Di Brazil buku ini sudah dirilis sesaat setelah buku ini diluncurkan, sekitar bulan Maret 2010 lalu. Buku ini adalah manifestasi dari pilgrimage alias perjalanan sucinya yang ketiga. Perjalanan pertamanya yang dinamakan “Road to Santiago” tertuang dalam buku sebelumnya, “The pilgrimage”. Sedangkan perjalanan keduanya “Road to Rome” ditulis dalam “Brida” dan “By the river Piedra I sat down and wept.”
danceoftheclouds.blogspotPerjalanan ketiga Coelho “Road to Jerusalem”. Tidak harus pergi ke Yerusalem, melainkan lakukanlah perjalanan ruang dan waktu. Kali ini Coelho pergi selama 4 bulan ke beberapa negara, tapi pencerahannya datang saat melewati Asia di kereta Transiberian. Ia melakukan perjalanan dengan seorang Gadis Turki, Hilal, yang akan muncul dalam buku terbarunya, tapi ini bukan nama sebenarnya gadis itu.
Di sinilah, titik dimana ruang dan waktu akan bertemu “The Aleph.”
*celotehan para pembaca coelho juga ada di sini, di review kacangan ini

















