Minggu, 08 Mei 2011

Eskapisme : Coelho

The Alchemist, sebuah karya Paulo Coelho yang pertama kali tersentuh dan menyentuh saya untuk membaca karyanya yang lain. Sarat dengan berbagai filosofi dan pelajaran yang bisa di-quote untuk citra jejaring sosial masyarakat urban (baca: reuss). Begitupun dengan nilai-nilai spiritualiatis modernnya yang membuat berhenti dan melamun sejenak, seperti mendapati teks pencerahan lintas agama. Kisah kasih yang ditampilkan di sini pun bersifat cinta yang memberi, dewasa, dan konstruktif, bukannya “cinta ini membunuhku” kalau kata D’Masiv.

Belum banyak karya Coelho yang sudah saya baca. Selain The Aclhemist ada juga The Devil and Miss Prym dan Veronica Decides to Die. Buat saya, Veronica-lah juaranya. Novel ini mencoba merekonstruksi ulang definisi orang gila dan waras, yang labelnya sudah menetap dalam masyarakat mapan kita. Veronica membuat saya berpikir alangkah menariknya untuk mendalami jiwa orang-orang yang dicap masyarakat tidak waras itu, karena dunia memang juga sudah gila.

Bagi saya, toresan Coelho bisa dijadikan tempat untuk “berlari” sementara.

danceoftheclouds.blogspot

Perjalanan hidup sastrawan Brazil ini, tafsir saya tidak jauh dari problematika masyarakat urban. Sejarahnya sangat tercium dalam karya-karyanya. Pencarian cita dan cinta, lekat dengan perjuangannya untuk tetap menulis yang tidak didukung oleh orang tuanya, sampai ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Perlawanan terhadap sistem, terlihat juga dari perjalanan-perjalanan yang dilakukannya, yang berada di luar zona aman yang kebanyakan dijalani sebagian besar orang. Begitupun dengan kontemplasi “sakit jiwa” yang dilakukannya saat ia dianggap gila oleh orang tuanya. Ia juga mengungkapkan praktik keji terapi electroconvulsive di rumah sakit jiwa, yang tertuang dalam “Veronica Decides to Die”. Tidak ketinggalan semasa mudanya, Coelho juga total menjalani hippie-nya dan menentang kapitalisme.

Mengintip dari blog resminya, Coelho telah meluncurkan karya terbarunya “The Aleph” yang baru akan dirilis ke seluruh dunia di tahun 2011 ini. Di Brazil buku ini sudah dirilis sesaat setelah buku ini diluncurkan, sekitar bulan Maret 2010 lalu. Buku ini adalah manifestasi dari pilgrimage alias perjalanan sucinya yang ketiga. Perjalanan pertamanya yang dinamakan “Road to Santiago” tertuang dalam buku sebelumnya, “The pilgrimage”. Sedangkan perjalanan keduanya “Road to Rome” ditulis dalam “Brida” dan “By the river Piedra I sat down and wept.”

danceoftheclouds.blogspot

Perjalanan ketiga Coelho “Road to Jerusalem”. Tidak harus pergi ke Yerusalem, melainkan lakukanlah perjalanan ruang dan waktu. Kali ini Coelho pergi selama 4 bulan ke beberapa negara, tapi pencerahannya datang saat melewati Asia di kereta Transiberian. Ia melakukan perjalanan dengan seorang Gadis Turki, Hilal, yang akan muncul dalam buku terbarunya, tapi ini bukan nama sebenarnya gadis itu.

Di sinilah, titik dimana ruang dan waktu akan bertemu “The Aleph.”

*celotehan para pembaca coelho juga ada di sini, di review kacangan ini

Selasa, 03 Agustus 2010

there shouldn't even be a need to question. he had his choices and I had mine. we all have our freedom to decide. I've forgiven him for leaving, I've forgiven myself for staying, and I've forgiven life for creating this drama of birth and death.
this had been an illusion of a journey, for it didnt have a start and didnt have an end. we will just find one another again and reside in one another's heart. it's a circle we cannot beat. because every end is the new beginning. might as well just enjoy the game!

-Dee, Rectoverso-

konon katanya

konon katanya. kamu tidak lenyap hanya berubah wujud. abstrak.

konon katanya. kamu ada di sini. sungguh nyata. tatkala aku bermain dengan memori tentang mu.

konon katanya. kami tak perlu lama-lama berbalut sendu. meratapi siksaan sesal rasa hilang. inginmu, kamu adalah kekuatan, terang. bukan gulita yang mematikan pelitaku dalam lorong gelap ini.

konon katanya. peranmu bukan selesai, tapi hanya bertukar. kamu si pendoa.

konon katanya. kamu sudah “pulang”. menetap dalam diri ini. di sini.

konon katanya. kamu bisa mendengarku. kapanpun dimanapun. akan kusampaikan semua ceritaku. udara, angin, dan kicauan burung itu akan mengantarku untuk berkisah padamu.

I know you're always here.
welcome home.

inspired by Jenny Jusuf

Selasa, 27 Juli 2010

sekian pekan tengah berjalan. setelah ku lihat kau berlalu sungguh cepat. melampaui ruang dan waktu. tak bisa menungguku. padahal aku masih di sini, terjebak dalam lorong gelap gulita ini. hampir mati tertelan sendu. memori-memori itu masih terasa menyiksa untukku. apalagi dia. dia tidak berhenti menitipkan pesan untukmu dalam doa yang terhembus di setiap nafasnya. sesekali menghirup nafas panjang seakan-akan mengamini anak nafasnya.

Rabu, 27 Januari 2010

Jan 9th

Dear God,

Let me always be her ordinary miracles.

ffff.

Minggu, 06 Desember 2009

Behind "Do Not Enter" Puri Saren Agung

Puri Saren Agung (Ubud) (Ubud Palace) adalah sebuah istana Kerajaan Ubud dengan rumah-rumah tradisional Bali yang indah sebagai tempat tinggal dari Raja Ubud. Letaknya tepat di depan pasar tradisional Ubud ( http://www.balistarisland.com/Bali-Interesting-Place/Puri-Saren.htm).

Berdalih seakan-akan sedang melakukan penelitian, saya meminta izin kepada penduduk sekitar untuk bisa masuk ke dalam bagian Puri Saren dimana pengunjung umum dilarang masuk. Untung saja! Karena ternyata ada yang tertangkap basah. Wisatawan yang berbekal penasaran sampai-sampai sedikit nakal memasuki "forbidden area" itu, (mungkin) untuk sekedar mengintip saja. Memenuhi rasa ingin tahunya. Petugas jaga saat itu sigap sedikit mengejar turis asing yang sudah terlanjur melintasi batas larangan tersebut. Diikuti dengan pemberian sanksi, yang tidak lain pada saat itu petugas memberikan sedikit pendidikan moral gratis tentang menghargai dan menaati peraturan yang jelas-jelas tertulis, plus sedikit malu karena menjadi bahan tontonan pengunjung lain yang kebetulan lewat.

Di tengah situasi tersebut, saya dengan mulusnya berhasil molos ke area terlarang tersebut, ditambah bonus satu warga lokal untuk ditanya-tanya. Ditemani meriah upacara pembukaan Ubud Festival yang samar terdengar sampai pelataran tersebut, sambil tercengang kagum (baca: norak) saya menikmati desain artistik rumah-rumah tradisional Bali (sok tau), tempat tinggal para bangsawan dan kaum Brahmana. Fancy, lengkap dengan atmosfer darah birunya yang kental. Satu rumah agak besar (utama) dengan rumah-rumah yang kurang lebih setengah besarnya dari rumah utama tersebut di sekitarnya. Taman kecil dengan seni kriya, pura, bale, foto keluarga bangsawan dan brahmana, ditambah dengan penjelasan cuma-cuma mengenai tempat tersebut.








Setelah saya mendapatkan beberapa informasi dan berhasil menangkap beberapa gambar, saya melihat seorang turis asing berbicara dengan warga lokal yang membantu saya kemudian masuk ke salah satu rumah tersebut. Ternyata rumah-rumah aksesoris tambahan yang mempercantik pelataran rumah utama ini adalah cottage yang disewakan. Dengan harga kalau tidak salah mulai dari $80 per malamnya. Begitulah informasi yang saya dapat dari study tour guide dadakan saya itu. Sedikit shiiiooccck. Mungkin saya saja yang kurang tahu, kalau Puri Saren Agung juga menyediakan bisnis lokalnya sendiri. Cottage di tengah istana bekas kerajaan Ubud, yang tadinya saya pikir hanya dihuni oleh penduduk lokal setempat berkasta Brahmana. Entah memang demikianlah fungsi rumah-rumah itu, atau telah terjadi peralihan fungsi, atau multifungsi?



Berdasarkan pengamatan saya saat itu, tidak ada petunjuk khusus baik di dalam pelataran, di tempat yang bertoreskan “Do Not Enter”, ataupun di luar Puri Saren itu sendiri, mengenai penyewaan cottage itu. Entah mengapa tanpa bukti yang konkrit dan valid, saya berhipotesa bahwa pemasaran gerilya penyewaan tempat ini dilakukan dengan word of mouth dengan sasaran yang segmented. Hal tersebut dilakukan agar tidak mengurangi nilai tinggi (elite) dari artefak yang bisa dikatakan high culture dari kaum Brahmana tersebut.

Atau mungkin ada fakta lain? Karena mungkin saja itu cuma jadi hipotesis super sok tahu dari anak baru lulus yang coba-coba untuk jalan-jalan sendiri dulu, belum siap ditanyakan perihal pekerjaan karena saat itu resmi menyandang status pengangguran.

Rabu, 18 November 2009

sehabis keluar gerbang tol porong

Hampir tengah bolong perkiraan waktu yang kuingat-ingat di tanggal akhir bulan Juli lalu. Rasanya suhu udara di ibu kota propinsi Jawa Timur ini memang lebih panas dan kering dibandingkan dengan Jakarta. Jakarta yang semakin sesak dengan kendaraan, ditambah dengan kenyamanan minim dalam transportasi publik yang melintasi jalan protokol ibukota. Dempet, mepet, baik antrean kendaraan ataupun para pencari nafkah yang berjubel sesekali diselipi copet dalam bus buangan Jepang yang masih dapat digunakan di sini. Rentetan antri teknologi perpanjangan kaki itu, roda dua, empat, bahkan lebih, (hampir) menghabiskan seperempat waktu melekku (hampir) setiap harinya. Berlanjut dengan gumpalan asap hitam pekat polusi sehingga lebih baik menutup hidung dengan ujung pakaian dan mencium bau badan sendiri. Sesampainya di tempat tujuan mood positif beserta semangatnya hilang, terbang dan melayang menyatu dengan partikel dalam asap hitam tadi, yang hanya menyisakan bau di pakaian, rambut, dan sebagian lagi di kulit. Sekian keluh kesah mantan mahasiswa yang baru-baru ini mau tidak mau mengikuti arus sebagian besar penghuni ibukota ini. Welcome to the real world!

Kembali kepada Surabaya dengan jalan tolnya dimana gerbang tol Porong menjadi pintu keluar satu-satunya menuju Malang saat ini. Kendaraan tumpanganku keluar dari lintasan tol sambil diikuti celetukan asal-asalan salah satu saudara sedarah dan seatap rumah, "Surabaya-Malang tuh, kaya Jakarta-Bandung."

Tidak lama setelah terlihat antrian panjang kendaraan yang melintas dan sebagian lagi ternyata memarkirkan mobilnya di pinggiran jalan tersebut.

Turun, berjalan menuju tanggul tinggi yang berada di sebrang rel kereta, dan meraih puncak tanggul tersebut melalui tempat-tempat dengan tangga yang dibuat sedemikan rupa, sederhana.



Namun ternyata terdapat pungutan biaya oleh masyarakat setempat untuk bisa mencapai puncak tanggul tersebut. Sekitar empat sampai lima ribu per orangnya.



Selesai bayar, aku menaiki anak tangga sambil membantu perempuan hampir setengah baya yang mulai kesulitan melintasi anak tangga dan membutuhkan gandengan tangan untuk membantunya berpijak, menapaki tanah berundak. sampai teraih anak tangga terakhir.

Hawa hangat dengan sekelibatan aroma belerang melintas, diikuti dengan angin hangat yang kian giat menyibakkan rambut sampai hampir menghilangterbangkan payung-payung yang sedang berserakan, bahkan bertengger di jari-jari tangan.

Lapindo.
Lumpur Lapindo.



Lebih dekat lagi.



Aku baru sadar, pohon-pohon itu tadinya bukanlah pohon yang hanya terlihat seperti rumput liar dalam pandanganku. Gersang, kering, berdebu seperti daerah sekitar pembangunan banjir kanal timur di musim kemarau.

Tempat ini saat itu layaknya tempat wisata bagi orang-orang yang melintasinya. Keingintahuan banyak orang akan kondisi rumah-rumah yang dilahap abis lumpur tersebut seperti membuka peluang untuk mendapatkan penghasilan bagi orang-orang sekitar, (mungkin) termasuk mereka yang kehilangan tempat tinggalnya. Selain pemungutan biaya untuk dapat melihat kondisi tersebut, mereka juga menjadikan momentum tenggelamnya rumah-rumah tersebut, diikuti dengan kondisi warga pasca bencana ini sebagai sebuah komoditas. Dengan penjualan DVD yang salah satu judulnya “Tragedi Lumpur Panas PT. Lapindo Brantas, Inc”, mereka dapat memberikan informasi untuk memenuhi keingintahuan pengunjung yang datang.


Ironis.




Tapi ternyata ada pemandangan lain yang lebih menarik. Maaf sebelumnya untuk penyamaran gambar yang sangat tidak profesional.



Ada juga yang mencoba berbagai macam gaya, namun sayangnya hanya dari satu angle, yang kurang mendukung. Photographer sukarela yang bertugas saat itu enggan untuk terjun ke bawah supaya bisa mendapatkan angle terbaik.



Ironis (lagi).
Entah kata apa lagi yang lebih tepat dari ironis.

Sekian banyak warga Siduarjo yang kehilangan tempat tinggalnya belum tentu saat ini sudah mendapatkan tempat tinggal yang layak kembali. Tapi sekilas wajah murung tersebut terlihat digantikan sementara dengan wajah para pengunjung yang puas mendapatkan angle apik nan ciamik, serasa berlibur di negri antah berantah dengan kebanggaannya tersendiri. Mungkin kemudian untuk dimunculkan ke dalam account pada social networking site tertentu. Hal tersebut turut melengkapi informasi seputar profil si pemiliknya, bahkan sebagai simbol yang merepresentasikan eksistensi tuannya.

Seusai puas memenuhi keingintahuannya (dan mengambil foto cantik atau gaya ala merenung memandangi lumpur yang tampak seperti danau), terlihat wajah-wajah tersenyum agak puas sambil sedikit meringis kepanasan, karena matahari sudah berada tepat di atas kepala. Kemudian diikuti langkah kaki yang mulai menuruni anak tangga. Memilih kerikil yang tidak terlalu besar untuk ditapaki. Menyeberangi rel kereta. Masuk kembali ke mobil tumpangan. Menyatu dengan barisan antrian kendaraan, sambil merengek..
lapar
ingin makan
perut mulai keroncongan